Rabu, 17 April 2013

Anak pendeta masuk Islam "Syamsul Arifin Nababan"

Menarik cerita teman yang ada di Solo yang mengatakan dia berteman dengan Syamsul Arifin Nababan (SAN), dari informasi yang saya dapat melalui telpon SAN adalah seorang Da’i bermarga Nababan ayah beliau  seorang pendeta dan Ibunda beliau seorang pemandu paduan suara di gereja.
Setelah saya googling ternyata SAN ini punya perjalanan hidup yang menarik sejak kecil-selama memeluk agama kristen sampai akhirnya berpindah menjadi muslim.
Dituturkan, beliau 7 bersaudara  dibesarkan dalam keluarga kristiani yang taat, “keluarga saya  keluarga yang demokratis”, kata SAN suatu saat.
Berbeda proses menjadi muallaf dengan tokoh-tokoh yang  lain seperti Ustadz Cahyono yang masuk Islam karena tersayat-sayat hatinya ketika mendengar suara azan magrib waktu beliau selesai main sepakbola atau WS.Rendra ’si burung merak’ yang tergetar hatinya ketika melihat rapinya orang yang lagi sholat khususnya waktu melihat jemaah tengah rukuk dan sujud, SAN bermula sering membaca…..

Suatu ketika beliau membaca perbandingan agama Islam-kristen waktu itu beliau masih kuliah di STT kuliah disini rencananya nanti akan jadi pendeta. Dari  membaca inilah beliau ragu dengan kebenaran isi alkitab namun beliau tidak serta merta memeluk Islam namun terus mendalami dan terus membandingkan agama Kristen-Islam, karena penasaran sampai buku ini dibaca berulang-ulang puluhan kali.
Rupanya hidayah memang sudah memilih beliau, pada tahun 1991 beliau dengan mantap masuk Islam, setelah beberapa tahun mendalami agama Islam beliau merasa rindu dengan ‘orang rumah’ khusunya ibunda beliau segera beliau mengutarakan niatnya kepada pembimbing agama beliau, sang guru menyarankan supaya SAN menjenguk keluarganya di Sumatera dan di beri ongkos diingatkan juga supaya SAN tetap menghormati keluarganya meski sekarang sudah beda keyakinan.
Berangkatlah SAN dengan rindu menggelora didada namun apa yang didapat ? Setelah memperkenalkan diri karena orang rumah  sudah tidak mengenal beliau lagi apalagi dengan memakai gamis dan sorban, saya Bernad Nababan….. kemudian diceritakan kisah dari pelarian di STT sampai sekarang menjadi muallaf dan mengganti nama, mungkin karena terkejut beliau diusir dari rumah keluaraga tidak dapat menerima.
Namun karena memang sudah menjadi manusia pilhan beliau malah bertambah mantap dengan keislamannya.
Pada 1997 beliau  diundang oleh kerajaan Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji. Ketika kembali pulang ke kampung halaman, usai menunaikan rukun islam yang kelima, SAN memutuskan untuk menyiarkan agama yang ia yakini kebenarannya itu. “Dua adik saya berhasil saya Islamkan,” ungkap Syamsul.
Berbekal ilmu yang ia pelajari, dan pengalaman mengislamkan adiknya, la memutuskan untuk terus melakukan dakwah. “Di Jakarta saya mulai berceramah dari masjid ke masjid hinga kantor ke kantor,” tuturnya.
Niat tulus tanpa tendensi, kata dia, maka Allah akan memberikan kemudahan dan jalan pada orang yang melakukannya. “Jika kamu menolong agamamu, maka Allah akan menolong kamu,” jelas Syamsul, meminjam sebuah ayat dalam Alquran.
Yang paling menyenangkan adalah ketika Ibunda beliau masuk Islam dan dua bulan kemudian berpulang ke rahmatullah….
Saya tuliskan perjalanan hidup beliau bukan karena apa, sekedar menjadi catatan bahwa jika Allah berkehendak maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghalangi.
Sumber foto : radar islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar